Cerita Pendek : Kisah Seorang Violis

Cerita Pendek : Kisah Seorang Violisby Ghazali Kareem Iffredistaon.Cerita Pendek : Kisah Seorang ViolisEmail Print Judul Cerpen: Kisah Seorang Violis Penulis: Aulia Afifah Asmy  Kisah Seorang Violis   “Tak masalah jika kau kehilangan hartamu, asal jangan hatimu. (A.E. Housman)” Angin bertiup kencang. Salju-salju mulai turun, membawa hawa dingin di kota ini. Banyak orang berlalu lalang menggunakan jaket tebal, untuk menghalangi dingin yang akan menusuk tulang mereka. Turunnyaa salju membuat […]

Judul Cerpen: Kisah Seorang Violis

Penulis: Aulia Afifah Asmy

 Kisah Seorang Violis

 

Tak masalah jika kau kehilangan hartamu, asal jangan hatimu. (A.E. Housman)”

Angin bertiup kencang. Salju-salju mulai turun, membawa hawa dingin di kota ini. Banyak orang berlalu lalang menggunakan jaket tebal, untuk menghalangi dingin yang akan menusuk tulang mereka. Turunnyaa salju membuat para anak kecil berbahagia, ya.. mereka bisa bermain salju dan membuat boneka salju di saat seperti ini.

Disebrang sana, seorang gadis berambut hitam lebat, sedang bermain biola, dan dibawahnya terdapat kotak biola yang terbuka dan terisi beberapa lembar uang. Sedang apa dia ?

cerita motivasi

Wah, hebat sekali kamu.” Puji seorang wanita paruh baya sembari meletakkan selembar uang di kotak biola gadis tersebut.

Ah, terima kasih.” Kata gadis itu tersenyum. Gadis itu pun menyudahi permainan biolanya. Dia mengambil uang dan duduk di sebuah bangku taman. Tapi, tunggu dulu ? Dia memakai sebuah tongkat untuk membantunya berjalan. Ah, ternyata dia buta. “Tuhan, terima kasih.” Gumamnya yang menitihkan airmata.

Melody, ayo kita pulang. Bunda akan membuat makanan kesukaanmu.” Ujar wanita paruh baya yang berjalan kearah gadis tersebut. Melody namanya.

Iya bunda.” Kata Melody yang memegang tangan bundanya.

*****

Matahari telah kembali ke peraduannya. Sedikit demi sedikit, terlihat bulan yang kini telah siap menjalankan tugasnya, ditemani bintang yang selalu setia kepadanya. Dinginnya malam, membuat burung-burung selalu disarangnya. Menemani anaknya, mendekap anaknya, dan bermain dengan anaknya. Kini, seorang Melody Alvord, tengah berdiam diri di taman belakang rumahnya, ditemani secangkir coklat hangat buatan bundanya.

Ingin rasanya aku kembali seperti dulu.” Gumam Melody sembari menyeruput coklat hangatnya. Dia kembali melamun, entah apa yang ia fikirkan. Masa lalunya ? Ya.. Mungkin

Mengapa aku harus buta, Tuhan. Mengapa aku harus seperti ini. Sungguh, aku benar-benar tidak ingin buta. Mengapa yang lain bisa melihat, sedangkan aku ? Melihat setitik cahaya pun tidak. Kau tidak adil.” Kata Melody yang menghempaskan tongkatnya. Kembali, ia termenung lagi. Jika dia memang berfikir tentang masa lalunya, bisa saja, masa lalunya menyedihkan.

Sreett…

Hah, apa itu ?” Gumam Melody.

Bunda.. Bunda..” Teriak Melody.

Sreett…

Lagi-lagi. Suara apa itu ? “Siapa itu ?” teriak Melody. “Tolong jangan sakiti aku.” Teriaknya lagi. Tiba-tiba, ada yang memegang tangannya dan membekap mulutnya. “Hei nona, bisakah kau tidak teriak ? Jangan membuatku malu.” Bisik seorang lelaki yang seumuran dengan Melody. Melody hanya menatap heran kearah lelaki tersebut. Lelaki itu pun melepaskan tangannya. “Halo nona Melody.” Kata lelaki itu sembari melambaikan tangan kearah Melody. “Apa yang kau lakukan disini ?” Ujar Melody.

Aku hanya ingin berkunjung. Tidak apa-apa kan ?” Ujar lelaki itu. Tertera sebuah tulisan di bajunya. Azka Alvaro. Namanya ? Ya.. mungkin.

Kutebak, kau lagi berkelahi dengan ayahmu ?” Ujar melody seakan menjadi paranormal dadakan.

Hmm.. begitulah. Dia terlalu sensitif terhadapku. Padahal, aku hanya bertanya sesuatu padanya, tetapi dia malah menamparku.” Kata Azka.

Jadi, sampai kapan kau mau disini, Sahabatku ?” Kata Melody sembari beranjak dari duduknya.

Sampai kapanpun aku mau.” Jawab Azka dingin.

Melody pun mengambil tongkatnya, meninggalkan Azka yang masih termenung di taman belakang rumahnya. Dia masuk kedalam rumahnya yang sangat sederhana, Tapi inilah rumahnya, rumah yang menjadi tempat yang amat tenang baginya. Rumah yang menjaganya dari orang-orang yang kejam diluar sana, orang-orang yang membencinya.

*****

Masih dalam musim yang sama, Musim salju. Disini, tepatnya di taman sekolah. Dua orang remaja, tengah duduk berdua di salah satu kursi taman. Mereka terlihat gembira. Terkadang, mereka tertawa, dan terkadang, mereka juga terdiam, seperti sekarang. Hening, sunyi, sepi, tak ada suara yang keluar dari mulut dua remaja ini. Mereka hanyut dalam fikiran mereka masing-masing. Entah apa yang sedang mereka fikirkan.

Kau tahu, aku terancam dikeluarkan dari sekolah ini.” Kata Melody. Raut wajahnya menggambarkan ada suatu kesedihan mendalam baginya.

Memangnya, kau membuat kesalahan apa ?” Kata Azka menatap Melody. Melody hanya menggeleng.

Aku tidak sanggup untuk melunasi bayaran. Aku terlalu miskin.” Kata Melody sembari meminum air mineral.

Maaf Melody, jika aku tidak bisa membantumu. Masalah kita sama-sama rumit.” Kata Azka yang sepertinya, merasa bersalah.

Kau bilang, kau akan menceritakan padaku tentang masa lalumu. Ayo ceritakan padaku!” Kata Azka mengahlikan pembicaraan. Melody menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.

Menyedihkan.” Gumam Melody lalu menceritakan masa lalunya kepada Azka.

Dulu, ketika aku berumur 5 tahun, aku adalah seorang Violis. Aku banyak mendapat penghargaan, Sampai-sampai, aku bisa memecahkan rekor muri dari orang yang lebih tua dariku. Ayah dan bunda ku bangga akan prestasiku.” Kata Melody yang mulai bercerita. Sebuah senyuman terukir di wajahnya.

Kau memecahkan rekor apa ?” Tanya Azka.

Ini belum sesi pertanyaan Azka. Hehe..” Ledek Melody. Azka pun mengangkat wajahnya sedikit lalu menurunkannya lagi, dia memberi isyarat pada Melody untuk melanjutkan ceritanya.

Tapi kebahagiaan itu hanya sekejap. 1 bulan setelah aku mendapat rekor muri, ayah dan bundaku bertengkar hebat. Ayah ingin menikah lagi, dia bilang, dia sudah bosan dengan bunda. Aku yang masih kecil, hanya bisa menangis melihat kejadian itu. Bunda, dia hanya pasrah.” Kata Melody yang berhenti sesaat untuk bercerita. Dia menarik nafas dan menghembuskannya.

Lalu, 2 hari setelah kejadian itu, aku kecelakaan, aku ditabrak mobil. Lalu, mataku buta. Dari sana lah, seorang Melody Alvord langsung dilupakan di dunia musik.” Ujar Melody yang maih memberikan senyuman di kisah sedihnya itu.

Oh iya, tadi kau bertanya tentang rekor muri itu kan ? Aku mmecahkan rekor muri dalam bermain biola tercepat.” Kata Melody yang menjawab pertanyaan Azka.

Apakah kau tahu siapa yang menabrakku ?” Tanya Melody kepada Azka. Azka hanya menggeleng.

Ayahku sendiri. Aku tahu, karena sebelum kejadiaan itu terjadi, aku melihat ayahku yang memasuki mobilnya. Aku tahu persis plat mobilnya.” Kata Melody.

Kau wanita yang tegar Melody.” Kata Azka menatap wajah Melody, sahabatnya.

Dua remaja itu pun melanjutkan cerita mereka. Tanpa mereka sadari, ada seorang yang memperhatikan mereka sejak tadi. Wajahnya terlihat kesal. Mau apa dia ? hmm… entahlah.

*****

huh, Melody. Ternyata, dia masih hidup. Ingin sekali aku bertemu dengannya. Tapi, rasa bersalah itu kembali muncul.” Gumam seorang lelaki paruh baya sembari mengelus-ngelus dagunya.

Mereka tidak sadar itu. Azka harus tau ini semua.” Kata lelaki itu berbalik badan.

Tau apa yah ?” Tanya Azka yang ternyata sudah dibelakang lelaki itu.

Ehh..ahh…” Lelaki itu terlihat gugup, keringat dingin mulai mengucur diwajahnya. Raut wajah Azka masih dalam keadan bingung.

Sudah saatnya kamu tahu Azka.” Ujar lelaki yang dipanggil Azka, Yah. Ayahnya ? Ya, dia ayah Azka.

Melody adalah kembaranmu.” Kata Ayah Azka yang berhasil membuat Azka terkejut hebat.

Melody.. kembaranku ? Ah.. mana mungkin, kalau sahabat ku, iya.” Kata Azka tertawa.

Ayah serius Azka. Melody Alvord adalah kembaranmu Azka Alvaro.” Kata Ayah Azka meyakinkan.

Apakah kau pernah berfikir, bahwa wajahmu dan wajah Melody mirip ?” Kata Ayah Azka sembari memgang bahu Azka. Azka hanya mengangguk.

Apakah kau sadar, bahwa nama belakang kalian hampir sama ?” Tanya Ayah Azka sekali lagi. Azka menatap dalam wajah sang ayah. Melihat keseriusan dimatanya.

Aku baru sadar itu.” Gumam Azka.

Jadi, ayah yang menabrak Melody, dan membuatnya jadi buta sekarang ?” Tanya Azka.

Saat kau dan Melody akan lahir, ayah berniat menceraikan bunda kalian. Ayah butuh waktu yang tepat untuk itu. Langkah pertama, ayah menyuurh nenek untuk menjagamu, ayah memindahkanmu ke Italia. Ayah lakukan itu, agar kalian tidak saling mengenal. Ayah beralasan kepada bundamu, bahwa nenek yang meminta ayah untuk membawamu kesana. Dan pada waktu yang tepat, ayah menceraikan bundamu, dan ayah mengambilmu dari nenek, membawamu menjauh dari mereka.” Jelas Jose, ayah Azka dan Melody.

Melody hari ini akan operasi, aku harus cari dia. Ayah keterlaluan” Kata Azka yang langsung berlari mencari Melody.

*****

Disebuah rumah sakit di kota London. Seorang Melody Alvord tengah bersiap untuk dioperasi. Kabarnya, dia mendapat donor mata untuknya. Mendengar itu, Melody sangat senang. 1 jam yang lalu dia mengirim pesan ke Azka. Azka yang mendengarnya, juga ikut senang. Tapi, Melody sekarang bertanya-tanya, siapakah yang berbaik hati mendonorkan mata untuknya. Bundanya bilang, orang itu sangat spesial dimatanya. Beberapa menit lagi, Melody akan dioperasi. Senang, terharu, gembira. Itulah yang dirasakan Melody saat ini.

Melody!” Teriak Azka memanggil Melody yang sebentar lagi akan masuk ke ruang operasi.

Azka. Kamu kesini ?” Tanya Melody. “Iya” Gumam Azka.

Azka melirik orang yang terbaring disebelah Melody. Mulut Azka sedikit terbuka, wajahnya seperti orang kebingungan. Orang yang dilirik Azka menempelkan telunjuk dibibirnya. Memberikan isyarat kepada Azka untuk diam. Apakah dia orang yang mendonorkan matanya untuk Melody ? Ya. Kalian benar.

Melody.” Seru Jose.

Em… maaf anda siapa ya ?” Tanya Melody kebingungan.

Aku Jose. Ayahmu.” Kata Jose sembari memeluk Melody.

Ayah. Kau.. Kau yang telah membuatku buta seperti ini. Ahh… Aku benci kau ayah.” Tegas Melody dengan aura penuh kebencian.

Maafkan aku Melody. Aku terlalu egois waktu itu.” Kata Jose melepaskan pelukannya.

Jose. Berhenti mengusik kehidupan kami. Kami sudah tenang tanpamu Jose.” Seru Vina, bunda Melody dan Azka.

Vina, aku minta maaf. Aku benar-benar egois waktu itu. Aku terlalu mementingkan harta dibanding kalian. Aku minta maaf. Tolong, maafkan aku ?” Kata Jose sembari merapatkan kedua tangannya, layaknya orang memohon.

Jika Melody memaafkanmu, aku juga akan memaafkanmu.” Kata Vina membuang muka.

Melody.” Suara Jose yang makin mengecil.

Aku sudah memaafkanmu ayah. Tapi, aku masih belum bisa melupakan kejadian itu. Aku butuh waktu. Maafkan aku.” Kata Melody menundukan kepalanya.

Baiklah. Tapi, perlu kalian ketahui. Bahwa, Azka adalah kembaran Melody.” Kata Jose yang berhasil membuat Vina dan Melody kaget.

Azka, kembaranku ?” Tanya Melody lirih.

Melody. Aku senang bisa menjadi kembaranmu.” Kata Azka tersenyum.

Azka. Ternyata, kita bukan sekedar sahabat. Tetapi, kita juga kembaran.” Melody tersenyum senang.

Ayo, nona Melody. Kita akan mulai operasinya.” Kata seorang suster.

Aku selalu berdoa untukmu Melody.” Kata Azka yang langsung duduk bersama Jose.

*****

Hari ini. Hari dimana Melody bisa melihat dunia kembali. Hari dimana Melody bisa melihat orang-orang yang ia sayang. Hari dimana dia bisa kembali tersenyum bersama orang-orang yang dia cintai. Dan hari ini, adalah hari dimana Melody bisa kembali menjadi seorang bintang, membuat karya baru, mengasah bakatnya. Kini, seorang Melody Alvord telah bangkit, dia telah bangkit dari kejatuhannya.

Sudah siap Melody ?” Tanya Christy. Dokter yang menangani Melody. Melody mengangguk dan tersenyum.

Orang yang mau aku lihat pertama, adalah bunda.” Gumam Melody dengan senyuman yang masih mengembang diwajahnya.

Azka dan Jose yang berada disitu hanya memandang sedih Melody. Sepertinya, ada yang mereka sembunyikan.

Buka matamu perlahan-lahan!” Kata dokter Christy.

Aku bisa melihat lagi. Mana bunda ? Aku ingin bertemu dengannya. Cepat, panggil bunda kesini.” Kata Melody kepada Azka dan Jose.

Melody. Tenang dulu.” Kata Jose yang berusaha menenangkan Melody.

Azka menarik nafasnya lalu menghembuskannya kembali. “Bunda sudah tenang disana Melody.” Gumam Azka menahan airmatanya.

Ah.. tidak. Kau pasti bercanda kan ? hah, aku tahu itu.” Kata Melody yang tertawa.

Tidak Melody. Bunda sudah pergi.” Kata Azka sembari memegang bahu kembarannya itu.

Kini, Melody percaya bahwa bundanya sudah tiada. Dia percaya karena melihat wajah-wajah mereka yang serius. Mereka tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Butiran bening dari matanya tidak sanggup ia tahan. Melody langsung terjatuh, wajahnya pucat.

Kenapa ? Kenapa bunda pergi secepat ini ?” Tanya Melody memeluk lututnya.

Bukankah bundamu pernah bilang, bahwa orang yang mendonorkan mata untukmu, adalah orang yang sangat spesial dimatamu ?” Tanya dokter Christy. Melody hanya mengangguk lemas.

Ya.. yang bundamu maksud adalah dia sendiri. Dia orang yang spesial dimatamu bukan ?” Tanya dokter Christy. Melody memejamkan matanya. Mencoba mengingat kenangannya bersama bunda semasa lalu.

Bunda memintamu untuk bermain biola di pemakamannya.” Kata Azka menyampaikan amanat Vina sebelum dia meninggal.

Aku akan melakukannya.” Gumam Melody.

*****

Kini, salju telah hilang. Matahari telah menampakkan dirinya. Kupu-kupu berterbangan kesana kemari. Burung-burung mengepakkan sayapnya. Bunga-bunga bermekaran disana sini. Orang-orang sangat gembira menyambut musim semi ini. Banyak yang berlari-larian, duduk ditaman, membaca novel, dan ada yang berfoto-foto. Akhirnya, musim salju telah selesai. Kini, seorang gadis tengah bermain biola di suatu pemakaman umum. Dia memainkannya dengan hikmat, ditemani dua orang lelaki dibelakangnya.

Semoga bunda tenang disana.” Gumam Melody sembari mengelus batu nisan bundanya.

Jadi, bagaimana ? Kau akan tinggal bersama kami ?” Tanya Azka kepada Melody.

Melody menggeleng. “Maafkan aku. Aku tidak bisa.” Kata Melody menatap wajah Azka dan Jose.

Tapi, kenapa Melody ? Kau masih marah dengan ayah ?” Tanya Jose.

Bukan. Aku hanya belum bisa melupakan kejadian itu. Kejadian dimana, ayah lebih rela kehilanganku dan bunda daripada kehilangan harta. Aku tidak bisa lupakan itu, ayah.” Kata Melody.

Maafkan ayah. Kalau bukan karena perempuan itu, ayah tidak akan meninggalkan kalian. Ayah tidak akan menabrak mu Melody. Saat itu ayah benar-benar perlu uang. Dan dia, menawarkan pekerjaan itu kepada ayah. Dia benar-benar terobsesi untuk membunuhmu. Dia ingin anaknya yang menjadi violis terkenal. Bukan kamu. Maafkan ayah Melody.” Kata Jose masih dengan permintaan maafnya.

Tidak apa ayah. Aku mengerti.” Kata Melody.

Lalu, kau akan tinggal dimana, Melody ?” Tanya Azka.

Aku akan tinggal dirumah nenek. Di Indonesia. Aku kasihan pada nenek, dia pasti kesepian. Bunda sudah tidak ada. Aku akan menemani nenek disana, mencoba membuat nenek tidak menangis lagi karena bunda. Aku akan membuatnya tertawa.” Kata Melody sembari mengukir senyuman dibibirnya.

Ayah bangga padamu Melody. Cobalah untuk bangkit, dan cobalah untuk bersinar lagi, karena kau pantas untuk jadi seorang violis. Semangat!” Kata Jose.

Oh iya, aku juga akan belajar bermain musik mulai besok. Aku akan mengalahkanmu Melody. Hahaha.” Kata Azka diselingi tawa. Mereka bertiga pun berpelukan.

*****

Bangkitnya seorang violis.” Gumam Melody sembari tersenyum lebar.

Nenek bangga padamu Melody.” Kata nenek Melody.

Terima kasih, nek.” Kata Melody sembari memeluk nenek.

Oh iya, tadi Azka mengirim pesan kepada nenek. Dia menyuruh kau menelfonnya sekarang. Dia rindu padamu.” Kata nenek.

Baiklah, aku akan menelfonnya sekarang.” Kata Melody yang langsung mengambil handphone nya.

Melody Alvord. Sekarang namanya telah bersinar kembali. Melody telah berhasil mengambil perhatian dari publik. Melody juga telah menyabet piala-piala dalam banyak lomba. Sekarang, dia tinggal di Indonesia bersama neneknya. Walaupun hanya hidup sederhana, mereka tetap bahagia. Saat Melody tinggal di Indonesia, Azka dan Jose selalu mengirim e-mail atau menelfonnya. Terkadang, dalam satu minggu, Azka dan Jose menelfon Melody bisa 7 hari penuh. Ya.. sekarang beginilah kehidupan mereka. Kehidupan yang penuh canda dan tawa, meskipun terkadang terselip kesedihan didalamnya. Tetapi, inilah hidup. Bagaimanapun keadaannya, harus kita jalani dengan senyuman.



Related Posts